Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi
Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII


Nilai UKG Jeblok Waktunya LPTK Berbenah

16 August, 2012

Nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) kini sudah bisa dilihat dan dievaluasi baik itu oleh guru, kepala sekolah, dan atau tenaga pendidik lainnya. Ternyata setelah diamati, nilai yang dihasilkan dalam UKG tersebut tidak sesuai harapan banyak pihak. Hasil nilai yang rendah seakan membenarkan, bahwa kendala dan kesulitan teknis di lapangan adalah sumbernya.

Hingga hari Sabtu (4/08) lalu, sebanyak 460 ribu hasil UKG tersebut telah diketahui. Proses penilaian masih berlangsung hingga tanggal 12 Agustus 2012. "Masih ada satu minggu lagi, saya optimis masih bisa mencapai angka 700 ribu," demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh," saat ditanya mengenai evaluasi UKG, di Yogyakarta, Minggu (5/08).

Mendikbud menyatakan perbaikan kompetensi merupakan pekerjaan besar. Tantangan harus dijalani dan kritik tidak akan pernah berhenti . "Tapi kita tidak boleh mundur. Murid saja diuji, apalagi gurunya.Jadi ada instrospeksi diri. Intinya, perbaikan tidak boleh berhenti," kata Menteri Nuh.

UKG selain sebagai acuan pemetaan kompetensi guru, juga akan digunakan untuk melihat kualitas Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) yang merupakan produsen guru. Hasil UKG ini akan menjadi koreksi bagi semua LPTK baik negeri maupun swasta. "Nanti kita petakan semua, misalkan perguruan tinggi X, saya sampaikan, ini loh lulusan sampean nilainya seperti ini, jadi untuk koreksi sekalian," ujarnya.

Hasil sementara, rata-rata nilai UKG tahap 1 adalah 44. Hasil tersebut, kata Mendikbud, adalah cermin kondisi guru kita saat ini. "Tidak usah malu, dan jangan merasa terhina, ini adalah usaha kita untuk menilai segala sesuatu secara fair," katanya. Dengan hasil tersebut, Mendikbud menegaskan proses perbaikan kompetensi guru ini tidak boleh mundur. "UKG ini proses perbaikan kompetensi, jangan hanya karena komputer ngadat kita berhenti," katanya.

Di sisi lain ada pula yang menganggap bahwa UKG bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah kualitas dan profesionalisme guru yang rendah. Pemerintah justru harus memperbaiki lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai penghasil guru.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik, Kemendikbud Syawal Gultom mengatakan, hasil UKG ini masukan berharga bagi guru untuk mengembangkan diri sendiri, masukan bagi sekolah untuk membina guru, penyelenggara diklat, dan LPTK.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Syawal Gultom pada 18 Januari 2012 lalu, hingga saat ini banyak bermunculan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang kurang bermutu. Pemerintah akan melakukanpembenahan Keberadaan LPTK, agar bisa menghasilkan lulusan yang baik. Apalagi, lanjut Syawal, pemerintah sudah memberikan tunjangan profesi bagi guru bersertifikasi. Ini mendorong tingginya animo masyarakat untuk menjadi guru. "Siapa yang tidak mau. Tunjangan profesi itu besarnya satu kali gaji guru. Hal itu juga mendorong tumbuhnya LPTK secara cepat," jelasnya.

Hal yang agak berbeda dikemukakan oleh Prof. Dr. Zainuddin Maliki, Msi Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, dan juga Rektor Universitas Muhamadiyah Surabaya. Dalam kesempatan wawancara di kantor Kopertis Wilayah VII Jawa Timur (16/8). Beliau mengatakan, bahwa yang paling urgent saat ini adalah peningkatakan kualitas guru, sedangkan pemetaan adalah rencana jangka panjang. "Kalau sekedar untuk pemetaan saja, kita bisa menggunakan nilai rata-rata Ujian Kompetensi Awal (UKA). Toh nilai rata-rata yang dicapai Jawa Timur mencapai 47.1, tidak jauh berbeda dengan UKG yaitu 43.8. Selanjutnya dengan berbekal angka tersebut, pemerintah sudah harus membuat sistem yang memiliki efek menyeluruh untuk meningkatkan kualitas guru."

Disinggung mengenai kualitas LPTK Prof. Maliki mengatakan, "LPTK sudah bekerja secara maksimal, mengenai output guru yang dihasilkan, semuanya itu tergantung dari input calon mahasiswa yang masuk dalam LPTK tersebut. Jelas LPTK harus berbenah, tapi yang penting bukan hanya itu, perlu adanya sistem yang baik untuk meningkatkan kualitas guru."

"Contoh, pemerintah kami mohon untuk meningkatkan kesejahteraan guru tanpa harus ada kewajiban sertifikasi. Sertifikasi ini tidak serta-merta dapat meningkatkan kualitas guru, karena banyak guru yang masih belum bisa mempraktekkan cara belajar-mengajar yang baik. Karena itulah, perlu ditingkatkan peran kepala sekolah, dan lingkungan sekolah itu sendiri untuk melatih guru, yang mereka miliki. Karena masih banyak, guru-guru yang belum mengenyam pelatihan yang diadakan oleh pemerintah" pungkasnya.

Berikut data hasil UKG Online untuk jenjang Guru Kelas SD dari 5 Provinsi hasil tertinggi (data nilai sampai dengan 11 Agustus 2012). (dbs/wp)

1. DIY
Nilai maksimal: 83,00 (Rata-rata: 48,75)
2. Jawa Timur
Nilai maksimal: 80,00 (Rata-rata: 43,83)
3. Sumatera Utara
Nilai maksimal: 79,00 (Rata-rata: 38,22)
4. Jawa tengah
Nilai maksimal: 78,00 (Rata-rata: 44,75)
5. Jawa Barat
Nilai maksimal: 77,00 (Rata-rata: 42,81)

Sumber foto : kemdikbud.go.id