Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi
Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII


Menanamkan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

27 July, 2012

Pada tanggal 5 Juli 2012 lalu bertepatan dengan peringatan Dekrit Presiden 5 Juli, diadakan seminar Nasional, dengan tema Nilai-Nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara. Seminar ini bertujuan untuk, menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila, yang makin terkikisnya Pancasila, oleh efek negatif globalilasi. Sebagai salah satu elemen dunia pendidikan tinggi di Jawa Timur, maka Kopertis VII Jawa Timur juga turut diundang dalam acara tersebut.
Acara yang diadakan di auditorium Graya Wiyata Universitas 17 Agustus 1945 lantai 9 ini, dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifudin, anggota DPR Dr. (HC) Ir. Siswono Yudohusodo, Laksamana TNI (purn) Slamet Subiyanto, pemilik PT. RUTAN Budi Santoso, dan dari dunia pendidikan diwakili oleh Prof. Dr. Warsono, M.Si.

Dari sisi pemerintah yang diwakili oleh wakil pimpinan MPR RI dan anggota DPR, mengatakan bahwa pemerintah sedang menggodok mekanisme untuk mensosialisasikan nilai Pancasila hingga ke pelosok Indonesia. Ada beberapa alternatif metode sosialisasi, yaitu membentuk badan semacam BP7. Atau dengan memaksimalkan kinerja badan negara yang telah ada, misalnya menggunakan Lemhanas.

Kemudian untuk kalangan purnawirawan, yang diwakili oleh Laksamana (Purn) Slamet Subiyanto berpesan kepada generasi muda khususnya mahasiswa, agar kaum mahasiswa sebagai generasi terbaik bangsa harus terus maju dan mempertahankan nilai-nilai Pancasila. Selanjutnya mantan Kepala Staf Angkatan Laut ini mengatakan, "dunia pendidikan tidak harus berdasarkan kompetisi, melainkan harus berdasarkan kompetensi. Untuk itulah, diperlukan sifat asah-asih-asuh, dan kejujuran, yang memang itu sudah ada dalam nilai Pancasila."

Kabar sedih muncul dari paparan yang diberikan oleh Prof. Dr. Warsono, M.Si, sebagai wakil dunia pendidikan. Beliau mengatakan, dalam pembukaan Peksiminal 2012 di Mataram lalu. Direktur Akademik Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Illa Sailah, Msc mengatakan bahwa 62% mahasiswa, menolak keberadaan Pancasila dalam mata kuliah mereka.
"Hal ini mungkin disebabkan para mahasiswa sudah jenuh dengan pelajaran Pancasila, yang diterima mereka sejak SD sampai SMA. Lalu materi yang diberikan di bangku kuliah juga hampir sama, dan metode pengajarannya juga monoton dan terlalu abstrak" tambahnya.

Keprihatinan juga tampak, dari sudut pandang dunia usaha, yang diwakili oleh pengusaha sukses asal kota Malang, Budi Santosa. Beliau sangat prihatin, karena banyak masyarakat yang menganggap nilai Pancasila sudah usang, padahal Amerika sekarang ini, juga sedikit banyak mengadopsi nilai Pancasila. "Barrack Obama yang dulu SD-nya di Menteng mengatakan, saya belajar Pancasila ketika saya SD. Kini, saya juga menerapkan nilai-nilai Pancasila tersebut di negara saya" ujarnya.

Semua pembicara yang mewakili berbagai elemen penting dalam masyarakat tersebut sepakat. Bahwa pendidikan nilai Pancasila, tidak bisa lagi dilakukan dengan cara doktrinatif seperti pada jaman Orde Baru. Tetapi, nilai-nilai Pancasila harus disosialisasikan dengan cara dialogis, partisipatif, dan tidak abstrak (nyata). Kesemuanya ini perlu didukung oleh keseriusan pemerintah, misalnya dengan membuat badan sosialisasi Pancasila atau dengan mengoptimalkan Lemhanas. (wp)